KuliksS

Minggu, 28 September 2014

Crazy Jakarta

Jatuh cinta berjuta rasanya..
sama dengan tinggal di negri ini yang berjuta rasanya.

Hallo dan selamat malam warga Jakarta !!
Jakarta yang tidak pernah beristirahat.

Gue memulai langkah gue turun dari kereta di stasiun Tebet. Walaupun angin malam meniup kencang bersama lajunya kereta yang datang tapi seolah tak satupun dari mereka peduli. Mereka tetap berjalan cepat dengan tujuannya. Tapi lain halnya dengan gue disini. Menikmati berjalan berlawanan arah dengan penumpang lain yang ingin menaiki kereta. Tak sedikit dari mereka beradu pundak dengan gue. Tak apa, mereka terlihat tergesah gesah ingin menaiki kereta.

Kereta terlihat siap berangkat, suara wanita di pengeras suara memberikan aba aba kereta akan berangkat."Fiiuuussss....." Kereta berjalan perlahan sampai akhirnya kencang menbawa angin merusak rambut gue yang tertutup hodie lalu gue membenarkan.

Langkah gue perlahan membawa gue keluar dari stasiun. Tak sedikit disana orang berjualan. Banyak kendaraan umum yang menunggu penumpang dan siap berangkat. Tapi kali ini gue memilih untuk berjalan kaki pulang kerumah. Memang gak dekat sih, dan gue tau semua resikonya berjalan kaki sendiri di malam hari di kota Jakarta yang edan ini. Gak sedikit jambret berkeliaran di jalanan. Tapi pikiran suntuk gue di hari ini ngalahin takut gue sama penjahat di luar sana. Gue masih belum mau cepat sampai rumah.

Gue pasang hodie, membenarkan sarung tangan karna diluar udara agak dingin, dan menyalakan mp3 gue untuk menemani gue dengan malam. Beberapa taxi yang menepi rapi , terlihat dari luar kaca supir itu tidur pulas. Banyak juga supir lain yang duduk di warung kecil sambil meminum kopi yang masih berasap hangat. Apa boleh buat mereka bukan robot, lalu lintas disini yang memaksa mereka untuk istirahat. Jalanan yang begitu deras dengan kendaraan padat tidak bergerak. Seperti yang gue bilang sebelumnya, Jakarta tidak pernah beristirahat.

Lampu lampu jalanan yang memayungi gue di sepanjang langkah kaki gue yang tenang. Sesekali gue melihat sekeliling. Anak anak penjual koran di lampu merah tidak begitu dapat sering mencuri perhatian pengendara mobil. Pengendara itu hanya memberikan lambayan tangan pada sang anak penjual koran.

Jakarta yang tak berawan, tak berbintang bahkan bulan tidak terlalu jadi perhatian. Yang terlihat hanya gedung gedung besar yang menjulang mencakar langit.

Jembatan penyebrangan ini sepi. Orang lain mungkin lebih senang berkendara dan bermacet macetan di bawah sana ketimbang berjalan kaki seperti gue. Ini bukan yang pertama kalinya gue berjalan kaki untuk pulang. Berjalan kaki itu punya kenikmatan tersendiri buat gue. Selain lebih sehat berjalan kaki dan menikmati pemandangan sekeliling selalu menghipnotis pikiran gue menjadi lebih jernih. Gue memang diam tidak bersuara , tapi fikiran gue enggak.

Gue berhenti sejenak di atas jembatan penyebrangan. Dari sini gue bisa melihat jelas kendaraan berlalu lalang dibawah sana. Memakan emosi untuk si pengendara karna padat merayap kendaraan.
"Walaupun disini macet banget tapi saya suka tinggal disini ketimabang di Australi" , tiba tiba suara laki laki yang tidak begitu terdengar berat mengejutkan gue. Dia B.U.L.E . Matanya agak biru ke abu abuan, rambutnya hitam dan tingginya... tinggi lah pokoknya hahaha.
"Hallo , ngapain kamu sendiriian disini? "
"oh.. iya lagi ngeliat macet banget disana" , gue terlihat kaya orang tolol reflek terkejut tadi.
"i hate crazy Jakarta, tapi saya suka dini orangnya ramah ramah" , sahut si bule ganteng yang ngomong bahasa Indonesianya masih terdengar gak begitu lancar.
"saya tinggal tidak jauh dari sini" , si bule melanjutkan
"sama saya juga kok, cuma masih belum mau pulang aja"
"Kamu suka kesini juga? saya sering lewat sini kalau mau ketemu kerabat saya. saya juga sering kesini untuk melihat sekitar"
"hehe jarang lewat sini. cuma kebetulan aja lagi pengen disini sebentar. wah kamu tinggal disini? sudah berapa lama?"
"sudah hampir 2 tahun saya disini"
Dia banyak bercerita bahwa dia sangat suka di Indonesia. Mulai dari orang orangnya yang ramah, makanan yang beraneka ragam bahkan dia bisa teriak "Nambah !" di rumah makan padang dan tempat makan lainnya. Kebudayaan  Indonesia juga unik , dia sangat tertarik dengan tari kecak. dan banyak cerita cerita lainnya yang dia ceritakan.
kita sempat diem dieman sebentar karna gue binggung mau mulai topik apa.
"oia saya Jo" , (nama disamarkan karna gue juga sebenernya lupa nama tuh bule ganteng. kita anggap aja namanya joo )
"hmm saya Lika"
"oke lika sepertinya sudah terlalu larut malam sebaiknya kamu pulang. Disini banyak sekali penjahat. Saya juga akan pulang sekarang"
"iya kalau begitu nice to meet you Jo"
"nice to meet you too Lika.  See yaa"
kita mengakhiri pembicaraan dengan saling melemparkan senyum. Kita berjalan berlawanan arah.

and now i'm home. kasur yang lembut sudah menunggu gue,

Dadah !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar